negeribadri
| BERANDA | RUANGDOSEN | KICKNOTE | PUISI | CERPEN | ESAI | ARTIKEL | SOLILOKUI | INFOLOMBA | GUDANG | GALERI | BIODATA |
Tuesday, December 01, 2009

Pada tanggal 1 Desember 2009, Sdr. Griven H Putra dari Komite Sastra DKR mengirim email kepada saya untuk menyebarkan informasi berikut ini: Seperti tahun-tahun sebelumnya, Dewan Kesenian Riau menyelenggarakan laman cipta sastra bidang penulisan cerpen, puisi dan naskah drama. naskah paling lambat diterima panitia tanggal 15 desember 2009.

Baca Selengkapnya
Tuesday, October 20, 2009

Oleh M Badri
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau, sekarang ini sudah menjadi bencana yang perlu ditangani dengan serius. Namun hingga kini konsep penanggulangan karhutla masih belum efektif. Ini terlihat dari masih sering terjadinya karhutla di Riau, bahkan Pekanbaru yang notabene ibukota provinsi. Dampaknya pun dirasakan di banyak sektor, terutama lingkungan dan ekonomi. Untuk itu perlu digagas langkah strategis untuk menanggulangi bencana tahunan yang melanda Riau ini.

Baca Selengkapnya...

Tak ada lagi kokok ayam hutan di belukar
tempat kita dulu saling berbagi cerita tentang burung-burung
yang kabur dari sangkar, juga ikan-ikan
berenang di air keruh
di semak itu, kini hanya ada puntung ganja dan viagra

Kerikil yang menyembul dari tanah lempung
menyimpan banyak cerita,
tentang serigala dan hantu pohon ara
juga tujuh bidadari di rawa-rawa
yang mengganggu tidur kita

Tak ada lagi buah onak
yang biasa kita kulum dengan penuh cinta
sambil menunggu senja tiba
dan mengembalikan semua mimpi
yang terpenggal sejak pagi

Di masa kecil,
aroma kebun dan lembutnya embun
seakan begitu magis
menyihir ladang-ladang dan rerumputan
menjadi hamparan puisi yang hijau

Pekanbaru, 2009

Baca Sajak Lainnya...

Cerpen M Badri

Aku tak tahu kenapa perempuan berwajah porselen itu senang berlama-lama duduk di kafe tepi pelabuhan. Memandang kapal-kapal barang bersandar memuntahkan ratusan kardus yang ditata semrawut di lambungnya. Tapi sejatinya mata sayunya tak berlabuh di kapal kayu tua itu, yang cukup uzur untuk mengarungi selat. Matanya menatap jauh, menembus ombak, kabut dan gugusan langit kelabu.

Di kota pesisir ini, sudah hampir sepekan dia menghabiskan waktu. Menikmati kebebasan setelah beberapa bulan terperangkap di istana vampir di negeri seberang. Istana yang dipenuhi wangi dupa. Meski di kota ini, dia juga harus menghirup bau asap pembakaran yang menyesakkan, setelah dua pekan dilanda kemarau.

Baca Selengkapnya…


Friday, December 28, 2007
Di Antara Kabut dan Badai


Kabut beriring di lereng gunung
Menari menuju lembah
Matahari masih tampak murung
Wajahnya pucat dan gelisah


Gerimis tidak menghalangi rencana perjalanan kami melewati liburan di wilayah Puncak, Jawa Barat. Bayangan udara dingin, jalan licin dan berkabut kalah oleh aroma jagung bakar, ayam bakar dan hijau lanskap alam yang membentang sepanjang mata memandang. Barangkali ini liburan terakhir kami, mahasiswa Magister Komunikasi Pembangunan IPB angkatan 2005, yang sebagian sudah mulai meninggalkan kampus. Liburan bersama menjadi sangat berharga di tengah kesibukan dengan berbagai aktivitas dan rutinitas yang cukup membelenggu.


Sebenarnya liburan ke Puncak adalah alternatif kedua, setelah rencana ke Kepulauan Seribu terhalang oleh gelombang pasang dan badai tropis. Tapi itu tidak masalah, sebab esensinya adalah kumpul dan tertawa bersama: melepas suntuk karena tesis yang belum selesai dan sederet cerita yang mewarnai studi. Untungnya saya masih bisa menikmati liburan ini, sebab beberapa hari sebelumnya sudah ujian akhir dan lulus. Namun beberapa teman? Ah, lupakan sejenak urusan kampus! Liburan hanya untuk senang-senang dan melegakan pikiran.

Baca selengkapnya...

Wednesday, December 19, 2007
Gathering bersama di Flo Lounge Bellagio Boutique Mall, Kuningan, Jakarta Selatan, 15 Desember 2007, ini merupakan kegiatan bersama yang diadakan oleh Penerbit Escaeva dan Bukukita.com. Keduanya memiliki komunitas dengan jumlah anggota mencapai 15.000 orang lebih. Gathering yang dihadiri kurang lebih 100 orang peminat dan penikmat sastra tersebut berlangsung sangat meriah. Acara diawali dengan perkenalan dan makan bersama bersama, lalu dilanjutkan dengan peluncuran buku Turquoise dan Tembang Bukit Kapur serta talkshow.

Tujuan Gathering ini tidak hanya melakukan pengakraban di antara anggota pecinta buku, namun juga memberikan berbagai informasi tentang dunia penulisan. Hal ini dapat dilihat dari diadakannya Talkshow Proses Kreatif Penulisan, dengan pembicara Titon Rahmawan dan M Badri, pemenang pertama Ajang Kreasi Kumpulan Cerpen. Talkshow ini dimoderatori Didik Wijaya, Managing Editor Penerbit Escaeva. Dengan sharing bersama penulis, diharapkan anggota dapat mengerti dan memahami bagaimana sebuah buku ditulis, dan mungkin ada yang terinspirasi untuk menulis juga.

M Badri di dalam talkshow tersebut mengemukakan bahwa id e pembuatan cerpen Tembang Bukit Kapur diawali dari perjalanannya ke Yogyakarta, tepatnya di daerah tandus di Gunung Kidul. Menurutnya ide bisa muncul dari mana saja, tidak hanya da ri perjalanan. Sedikit berbeda dengan Titon Rahmawan, ia mengatakan bahwa Turquoise berasal dari imajinasinya. Setting Turquoise berada di kota antah berantah bernama Makarresh, yang ternyata hasil risetnya pada kota di Maroko, yaitu Marrakesh. Menurutnya, imajinasi seliar apa pun tetap harus memiliki pijakan realita walaupun se di kit (rilis escaeva).

Foto 1 : Foto bersama seusai acara (dok.escaeva)
Foto 2 : Launching Tembang Bukit Kapur (dok.setiyo bardono)
Foto 3: Talkshow Didik Wijaya - M Badri - Titon Rahmawan (dok.escaeva).

Baca Selengkapnya…

Thursday, December 06, 2007
Telah terbit , buku antologi cerpen bersama TEMBANG BUKIT KAPUR. Cerpen-cerpen yang dimuat di dalam buku ini adalah cerpen-cerpen terbaik yang dipilih dari ajang lomba yang telah diadakan selama dua tahun berturut-turut. Jelas, ini bukan buku cerpen biasa. Jangan sampai terlewatkan! (escaeva.com)

Buku tersebut memuat 19 cerpen antara lain : Tembang Bukit Kapur (M Badri - Pemenang 1), Taman Kanak Kanak (Setiyo Bardono – Pemenang 2), Boneka Gajah Yang Bisa Bertelur (Rama Safra'I Rachmat – Pemenang 3), Menunggu Kabar (M Raudah Jambak), Panggil Aku Joe (Nursalam AR), Aku Seorang Junkie Kasih Sayang (Bunga Mega), Megatruh (Titon Rahmawan), Kota Seribu Pohon (Harry Wahyudhy Utama), Rumah-Rumah yang Bersetubuh (Iggoyel Fitra), Yang Tak Pernah Tertidur (Ary Wibowo), Kota Lalu Ibu (Pinto Anugrah), Kali Bakar (Azizah Hefni), Membunuh Ayah (Alimuddin), Sisi Lain (Hasyim Ashari), Buku Bersampul Coklat (Fenty Febriyanti), Buku Harian Mimin (Titon Rahmawan), Gadis Pemimpi (Fenty Febriyanti) dan Lelaki Berwajah Ramah dan Lelaki yang Tak Ingin Kusebut Namanya (Wetry Febrina).
Thursday, November 08, 2007

Magnet Raja Ali Haji & Kegelisahan Seniman Kepri


Bintan Arts Festival (BAF) merupakan perhelatan akbar yang digelar seniman Kepri. Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, Rendra, Putu Wijaya, Joko Pinurbo, Butet Kertarejasa, Nano Riantiarno, Marhalim Zaini, Johanes Sugianto, adalah beberapa nama di antara sekian banyak seniman ternama yang pernah datang ke Tanjungpinang, yang juga kampung halaman “presiden penyair” Sutardji Calzoum Bachri. Tahun ini yang menjadi starring adalah penyair dan novelis Sitok Srengenge dari Jakarta. Selain menampilkan seniman Tanjungpinang, Lingga, Karimun dan Batam, BAF juga menghadirkan beberapa seniman dari luar Kepri seperti Jakarta, Riau, Sumatera Barat, Thailand dan Singapura. Saya sendiri diundang panitia BAF sebagai penerima Raja Ali Haji Award, karena puisi “Ayat-ayat Penyengat” ditabalkan sebagai pemenang pertama kontes penulisan puisi nasional bertema “Tafsir Bebas Gurindam Duabelas”. Bersama saya juga diundang pemenang lainnya, penyair kawakan dari Medan yang masih tetap produktif, A. Rahim Qahhar. Magnet Raja Ali Haji, akhirnya menarik saya untuk datang ke Tanjungpinang dan berziarah ke Pulau Penyengat “menemui” Raja Ali Haji.


Baca selengkapnya...

Tuesday, September 25, 2007

Tentang Kenangan, Realitas Sosial, Romantisme...

Pengantar Oleh Hary B Kori'un

M Badri adalah lelaki yang penuh dengan kenangan. Itulah yang pertama kali muncul dalam pikiran saya ketika membaca cerpen-cerpennya. Di hampir semua cerpennya, dia selalu bercerita tentang kenangan, masa lalu, sejarah dan serpihan-serpihannya, yang kemudian dirangkainya menjadi sebuah plot, menjadi sebuah cerita pendek yang sebenarnya amat panjang karena menembus ruang dan waktu. Dia bisa berlama-lama dan berlembar-lembar halaman menulis tentang potongan masa lalu itu.

Problematika sosial yang dipotret Badri dalam cerpen-cerpennya sangat terlihat di tengah romantisme masa lalu yang dia tawarkan. Cerpen “Malam Api” misalnya, menceritakan tentang bagaimana kapitalisme yang tanpa batas mengamuk dan menghancurkan sistem nilai dan kultural masyarakat, yang akhirnya menimbulkan persoalan sosial. Orang-orang yang terusir dari kampungnya akibat kekerasan kapitalisme secara verbal maupun idelogi, yang tidak mampu melawan.

Baca Selengkapnya...